Pengalaman Seru dan Horor Saat Pendakian Gunung Merbabu

By 9:41:00 AM



            Gunung Merbabu merupakan salah satu gunung non aktif yang berada di Jawa Tengah tepatnya berada antara kabupaten Magelang dan Boyolali yang memiliki ketinggian 3142 mdpl. Gunung merbabu memiliki pemandangan yang sangat indah di bandingkan gunung – gunung yang berada di jawa. Gunung merbabu memiliki tiga puncak yaitu puncak Kenteng Songo, Puncak Triangulasi dan Puncak Syarif. Nah, saat pendakian di gunung merbabu ini saya mendapatkan pengalaman yang sangat seru dan juga sedikit menegangkan berbau horor. Jika penasaran yuk simak cerita seru saya hehe

           Bermula setelah wisuda kuliah, saya dan teman satu geng ( teman kampus ) merencanakan untuk melakukan pendakian di gunung merbabu. Yah, itung-itung merayakan kelulusan di gunung begitu pikir kita waktu itu. Berangkat hari sabtu 28 Oktober 2017 ,dari rumah pukul 9 malam dan sampai basecamp sekitar jam 10 malam. Di pendakian gunung merbabu ini kita mengambil jalur pendakian via gancik jalur pendakian lama. Sebenarnya ada dua jalur yang pertama via gancik jalur baru dan via gancik jalur lama. Saya dan teman-teman memilih jalur pendakian lama karena memang jalurnya santai dan tidak terlalu menanjak disamping itu kita juga berenam ada satu cewek. Lanjut, setelah beristirahat beberapa saat di basecamp  kita start mendaki jam 10.30 malam. Mendaki malam hari seperti ini ternyata banyak juga barengannya. Beberapa kali kita berpapasan dengan rombongan pendaki lain dan saling tegur sapa. Hal semacam ini memang sering dilakukan antar sesama pendaki saat berpapasan, mulai dari saling sapa, saling menyemangati, berbagi bekal, sampai break bareng sambil sesekali terlibat obrolan ringan. Pendakian kali ini memang kami tidak terlalu terburu – buru untuk sampai di puncak. Santai dan sesekali break untuk sekedar menghela nafas dan minum kami lakukan di sepanjang perjalanan menuju ke pos 1. Bahkan setelah sampai di pos 1 si Devan ( salah satu teman yang baru aja terjerat game online ) meminta untuk tidur dulu selama 10 menit, “maklum boy seharian gak tidur main game online”. Parah ini anak nekat aja naik gunung setelah seharian gak tidur, kata saya dalam hati. Akhirnya saya dan Devan pun istirahat di pos 1 sambil nunggu yang lain yang masih di bawah yang tidak begitu jauh. Oh iya, jarak tempuh dari basecamp menuju pos 1 ini kira – kira 45 sampai 1 jam perjalanan santai.

Perjalanan dari pos 1 menuju pos 2

 
            Setelah istirahat beberapa saat dan si Devan sudah kembali nyawanya ( sudah terbangun setelah tidur 10 menit ) kita serombongan pun melanjutkan untuk menuju pos 2. Selama perjalanan menuju pos 2 di pendakian gunung merbabu kali ini tracknya mulai menanjak meskipun tidak terlalu sering dan juga masih banyak track landai ( bonus ). Walaupun begitu si Handa satu satunya cewek dalam rombongan kami sesekali minta untuk break sebentar. Dengan digandeng terus oleh Anas ( gebetannya Handa yang ngak jadi hahaha ) Handa pun seperti mempunyai tenaga ekstra untuk terus melanjutkan perjalanan. Selama hampir 1 jam akhirnya kami semua tiba di pos 2. Beberapa saat kita beristirahat di pos 2 yang memang sudah ramai oleh pendaki, kira – kira ada 5 rombongan dan salah satu rombongan memutuskan untuk mendirikan tenda. Setelah 15 menit istirahat kami pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju pos 3 yang memang sudah terlihat dari pos 2. Ya, memang jarak antara pos 2 dan pos 3 tidak begitu jauh meskipun jalanannya menanjak.

Perjalanan dari pos 2 menuju pos 3


            Saat perjalanan menuju ke pos 3 kami terpisah menjadi 3 rombongan. Si Eka dan Simbah duluan jauh di depan, saya sama Devan menyusul jauh di belakang mereka sedangkan Anas masih setia menggandeng Handa yang sedikit kelelahan di belakang. Di tengah perjalanan apa yang saya rasakan sedari tadi pun akhirnya terjadi juga. Sebelumnya saat akan melanjutkan perjalanan dari pos 2 saya sudah bilang sama Devan bahwa saya merasakan kok ada gemercik air yang sepertinya mau hujan. Dan akhirnya rintik hujan pun menyambut kami di tengah – tengah perjalanan menuju pos 3. Bergegas saya dan Devan pun menepi di bawah pohon yang berada di sebelah jalur pendakian untuk berteduh. Dengan tergesa – gesa saya keluarkan mantol dari dalam carrier yang memang sudah saya persiapkan saat packing sebelumnya. Sayangnya mantol yang saya bawa adalah mantol baju sedangkan Devan tidak bawa mantol. Akhirnya mantol kita tata di atas pohon dan kita berteduh di bawah mantol tersebut, walaupun demikian baju kami tetap basah karena hujan juga deras waktu itu. 




            Tidak berselang lama rombongan lain datang dan ikut berteduh bersama kami disusul Anas dan Handa yang juga sudah basah. Mereka semua masing masing mengeluarkan mantol kemudian ditata juga di atas pohon supaya bisa buat menahan air hujan saat kita berteduh rame – rame seperti itu dan untungnya hujan yang deras tidak begitu lama. Kami pun bergegas untuk melanjutkan perjalanan meskipun masih gerimis berharap sampai di pos 3 yang memang kurang sedikit lagi sampai sebelum hujan deras datang lagi. Tapi di tengah perjalanan Handa terlihat menggigil dan Anas juga ternyata sudah kedinginan. Di situ akhirnya kita putuskan untuk mendirikan tenda dan untungnya kita pas berada di pinggir tanah yang datar yang cocok untuk mendirikan tenda. Di Tengah gerimis hujan dan hawa dingin yang menusuk tulang, kami mendirikan tenda yang berkapasitas untuk 6 orang. Setelah tenda berdiri kami bergegas masuk ke dalam tenda dan berganti baju, karena memang baju kita sudah basah semua. Di dalam tenda Anas dan Handa sudah kedinginan dan segera masuk ke kantung sleeping bad, sedangkan saya dan Devan segera memasak air untuk membuat kopi dan masak mie instan. Yah, memang sedari tadi kami sudah menahan lapar dan juga kedinginan. Setelah masakan selesai kita pun segera bergeges makan dan minum kopi untuk mengembalikan tenaga serta menghangatkan tubuh yang sedari tadi menggigil. Waktu menunjukkan pukul 03.00 WIB, kita segera beristirahat dan tidak lupa memasang alarm jam 5 pagi untuk persiapan melanjutkan perjalanan pendakian ke puncak gunung merbabu. Nampaknya semua tertidur dengan pulas malam itu hingga alarm pun berbunyi yang menandakan waktu sudah pukul 5 pagi.  Kami pun terbangun dan segera menyipkan sarapan pagi dan juga prepare barang -  barang yang di rasa butuh saat melanjutkan perjalanan ke puncak. Dengan meninggalkan tenda pukul 06.30 WIB kita mulai perjalanan menuju pos 3 dengan membawa bekal roti juga 2 botol besar air mineral. Ternyata 5 menit perjalanan kami sudah sampai ke pos 3 dan dari pos 3 hanya tenda kami satu satunya yang berdiri di bawah pos 3 hahaha , sedangkan di pos 3 sudah banyak sekali tenda tenda yang berdiri dan terlihat beberapa pendaki sudah mulai naik menuju titik selanjutnya yaitu sabana 1 gunung merbabu.

Perjalanan dari pos 3 menuju sabana 1



            Dilihat dari pos 3 pendakian gunung merbabu track menanjak dan sangat tinggi terpampang di depan mata. Mungkin inilah tanjakan yang diceritakan teman sebelum mendaki, bahwa banyak mental pendaki yang gugur setelah melihat tanjakan ini. Memang betul saat itu mental sedikit down. Tapi setelah beberapa saat termenung dan memang target kita dari awal adalah sampai puncak tertinggi gunung merbabu, semangat kita ber empat pun kembali membara dan langsung melanjutkan menaklukkan track menuju sabana 1 tersebut. Saya dan Devan berada di depan mendahului Anas yang masih dengan kesabaran tingkat dewa menuntun Handa perlahan menaiki tapak demi setapak tanjakan yang memang menguras tenaga. Saya dan Devan memutuskan untuk naik dan menunggu Anas dan Handa di sabana 1 dikarenakan kalau break kelamaan akan terasa tambah lelah dan juga hawa dingin akan semakin menusuk.



  
          Akhirnya Saya dan Devan pun tiba di sabana 1 pendakian gunung merbabu. Sembari menunggu Anas dan Handa yang masih berjuang menaklukkan tanjakan tersebut dan memang tertinggal agak jauh di bawah, saya pun istirahat sambil menikmati keindahan sabana 1 yang sangat begitu memukau setiap insan yang menapakkan kaki di situ. Di sisi kanan dan kiri terdapat banyak tenda – tenda pendaki yang semalam bermalam disitu. Memandang ke arah barat mata saya kembali terperangah setelah melihat jalur pendakian yang menanjak melewati bukit lagi. Pikir saya disitu adalah puncaknya tapi setelah melewati bukit itu ternyata adalah sabana 2 dan puncak gunung merbabu masih menaiki bukit yang berada di belakang sabana 2 dan  tracknya juga bisa terlihat dari sabana 1 ini. “wah gila nih tracknya, bisa kuat sampai puncak gak nih ?”, pikir saya dalam hati. Tak lama kemudian Anas dan Handa pun tiba di sabana 1 dengan candaan yang mereka buat yang sedikit mengaburkan keresahan saya setelah melihat track tersebut. Di Sabana 1 ini kita berhenti sejanak untuk sekedar istirahat dan juga berfoto – foto, karena memang menurut saya sabana 1 di gunung merbabu ini adalah spot foto yang paling bagus dibandingkan di sepanjang jalur lainnya.

Perjalanan dari sabana 1 menuju sabana 2





            Setelah puas berfoto dan beristirahat kami pun saling menyemangati dan membulatkan tekat untuk bisa mencapai puncak. Semangat kami pun kembali terbakar dan dengan tekat baja pantang menyerah, kami mulai menaiki tanjakan menuju ke sabana 2 yang merupakan pos berikutnya sebelum mencapai puncak gunung merbabu. Memang track tanjakan menuju sabana 2 ini tidak sejauh dan semenanjak track sebelumnya saat mencapai sabana 1, tapi cukup menguras tenaga kita sehingga memaksa kami untuk sesekali beristirahat untuk menghela nafas. Tanjakan demi tanjakan kami lewati hingga sampai akhirnya kita sampai di sabana 2 gunung merbabu. Sabana 2 gunung merbabu tempatnya tidak sebegitu luas seperti sabana 1 tapi tempatnya lebih datar dan dikelilingi bukit yang membentang. Di sabana 2 ini hanya terdapat 4 tenda saja. Saya bisa bayangkan perjuangan mereka hingga bisa mendirikan tenda di sabana 2 ini dengan membawa tas carrier yang pastinya tidak ringan melewati tanjakan – tanjakan yang bisa membuat mental down setiap pendaki.

Perjalanan dari sabana 2 menuju puncak merbabu ( Kenteng Songo )






            Tanpa istirahat kami memutuskan pendakian hingga sampai ke puncak gunung merbabu. Perlahan tapi pasti setiap langkah setiap tapak tanah kami daki dan berkali kali langkah kami terhenti untuk sekedar menghela nafas dan juga membasahi tenggorokan kita yang sudah kering. Disini saya lihat masih begitu setianya temanku yang satu ini menggandeng dan menuntun Handa untuk terus berjuang agar bisa meraih impiannya menapakkan kaki dipuncak gunung merbabu. Setelah beberapa lama kami pun tiba di Puncak Kenteng Songo yang merupakan salah satu puncak dari gunung merbabu yang paling ramai. Pada waktu itu saya  melihat jam ternyata sudah pukul 12.30 WIB. Tidak terasa perjalanan kami dari tenda yang berada di pos 3 sampai ke puncak selama 6 jam perjalanan hehehe. Di puncak Kenteng Songo kami pun berfoto – foto sembari menikmati pemandangan yang luar biasa dari puncak. Bukit – bukit sabana 1 dan sabana 2 serta tenda – tenda para pendaki yang berada di sana nampak jelas dari puncak. Di sisi sebelah nampak dengan jelas Gunung Merapi menjuntai mendampingi disisi Gunung Merbabu. Di puncak Kenteng Songo ini gunung merbabu menepati janjinya dengan menyuguhkan panorama pemandangan yang memukau setelah kita melakukan kewajiban dan pengorbanan yang sangat menguras tenaga.



            Puncak Kenteng Songo terdapat susunan batu yang berjajar rapi dengan lubang di setiap batu yang terbentuk secara alami. Saat kami tiba di puncak Kenteng Songo, batu – batu tersebut sudah dipagari tali yang mengelilinginya dan terdapat tulisan yang intinya agar selalu menjaga dan selalu melestarikan alam. Mungkin ini yang dilakukan oleh pendaki yang berada di puncak selama 100 hari kemarin. Sayang kita tidak berjumpa dengan mereka karena mereka mungkin sudah turun pagi hari tanggal 28 Oktober kemarin karena hari itu adalah hari Sumpah Pemuda.

Perjalanan dari puncak Kenteng Songo ke puncak Triangulasi





            Setelah puas menikmati pemandangan dan berfoto di puncak Kenteng songo kita pun memutuskan untuk sekalian menapakkan kaki di puncak Triangulasi yang memang berjajar dan berjarak cukup dekat dengan puncak Kenteng Songo. Mungkin 5 sampai 10 menit kita sampai di puncak Triangulasi.  Di puncak Triangulasi ini ternyata juga sepi, hanya kami yang berada disana. Pemandangan disini juga sangat indah tidak kalah dengan di puncak Kenteng Songo. Setelah berfoto – foto kami pun segera turun, karena waktu juga sudah menunjukkan pukul 13.00 WIB. Selain itu juga kabut sudah mulai naik dan kami juga tentunya tidak ingin kedinginan diatas puncak.

Perjalanan turun dari puncak kembali ke tenda

            Kami pun bergegas untuk turun. Setelah berunding dengan teman – teman akhirnya saya memutuskan untuk turun duluan dengan berlari sama Devan yang memiliki tanggung jawab setelah sampai tenda memasak mie dan juga buat kopi untuk Anas dan Handa yang terakhir nanti sampai tenda. Saya dan Devan pun turun dengan berlari dari puncak sedangkan anas masih setia menuntun Handa turun. Setelah berlari sekian lama akhirnya saya sampai duluan di tenda di susul Devan. Ternyata kalau turun lari dari puncak sampai ke tenda hanya 1 jam perjalanan. Kita pun mulai memasak mie dan juga kopi untuk mengembaikan tenaga kita yang sudah sangat terkuras tadi. Tidak lupa Devan juga memasakkan air untuk Anas dan Handa yang lagi perjalanan menuju tenda setelah kami makan. 

            Setelah itu saya pamit ke devan ,” Van aku tak merem ya”. Devan menjawab “ Iya luk biar aku tunggu ini air sampai mendidih”. Tak lama kemudian tedengar suara Anas dan Handa yang baru datang dan saya pun terbangun dan ternyata si Devan malah ikutan tidur dengan kompor yang sudah mati karena gasnya habis. Terpaksa Anas ganti gas yang baru dan langsung masak air untuk mereka makan. Setelah mereka makan kami pun packing untuk turun sekitar jam 5 sore. Tampaknya kita memang kesorean waktu itu untuk turun kembali ke basecamp.

Tragedi tersesat dan horor saat perjalanan dari tenda menuju basecamp

            Waktu itu pukul setengah enam sore dan kita siap turun menuju basecamp. Saat perjalanan turun Devan sudah langsung berlari duluan meninggalkan kita bertiga yang berada di belakang. Saat itu memang Handa fisiknya sudah down dan sudah batasnya. Kakinya sebelah kiri keram dan kami bertiga hanya berjalan pelan saat turun. Devan pun tidak mengetahui akan hal itu dan terus berlari kebawah berfikir kita juga akan mengikutinya berlari. Sampai pada akhirnya terdengar suara adzan maghrib kemudian saya, Anas dan Handa pun berhenti sejenak. Disitulah saya sudah merasakan keganjilan yang terjadi. Saat berhenti itu saya paling belakang, saya menunduk menalikan tali sepatu saya yang terlepas dan terdengar suara langkah kaki seperti orang berlari di belakang saya. Saya tengok tidak ada siapa-siapa. Handa langsung bertanya kepada saya, “ada apa luk? “ karena saya tau di gunung hal semacam itu tidak boleh dibicarakan dan cukup tau dan dirasa aja, selain itu saya juga tidak mau Handa dan Anas juga ketakutan maka saya jawab,” gak ada apa – apa kok nda”. Padahal kita ber tiga adalah pendaki terakhir yang turun waktu itu.

            Setelah adzan maghrib selesai kami mulai melanjutkan perjalanan dengan dibantu penerangan 3 senter yang kami bawa. Tentunya dengan baterai yang sangat menipis dayanya karena sebelumnya dipakai untuk naik. Nyalanya pun juga sudah tidak begitu terang. Di tengah perjalanan kejadian ganjil pun kembali saya rasakan. Kali ini kita bertiga sama – sama merasakan. Dari sisi kiri saat perjalanan turun adalah jurang dan kami sama – sama mendengar suara burung tapi seperti suara orang saat tertawa dari arah jurang itu dan terus mengikuti kita. Beberapa kali saya arahkan sorot senter ke arah jurang , tapi tidak ada apa – apa hanya jurang yang sangat dalam yang terlihat. Karena saya berada di belakang dan Anas masih menuntun Handa di depan saya bilang ke mereka “udah tidak apa , pelan – pelan aja jalannya”. Kita pun tidak menghiraukan suara itu dan tetap fokus jalan kedepan. Hingga sampai di pos 2 suara itu masih mengikuti kita tapi pindah di sisi sebelah kanan yang merupakan pepohonan yang lebat.

            Seprtinya suara itu tidak bosan mengikuti kita dan kita pun juga menghiraukan suara itu, sampai akhirnya hilang sendirinya saat perjalanan menuju pos 1. Saat itu memang sudah gelap gulita dan parahnya lagi senter kami sudah mati satu karena kehabisan daya. Saya ambil senter lagi yang satunya dan nyalanya pun juga redup, tapi tak apalah semoga bisa sampai bawah doa saya waktu itu. Saat itu saya tukar posisi dengan Anas , saya berada di depan mencari jalan sendangkan Anas lagi – lagi dengan kekuatan hatinya yang super menuntun Handa yang mulai keletihan dan menahan sakit kram di kakinya sampai akhirnya kita tiba di pos 1.

            Di pos 1 kita bertiga kembai beristirahat sejenak sembari rebahan karena memang pundak sudah pegal-pegal membawa tas cariier yang juga berat. Setelah beberapa menit beristirahat kita pun melanjutkan perjalanan menuju basecamp. Nah, ditengah perjalanan kami pun tersesat setelah beberapa kali dihadapkan dengan jalan yang bercabang. Padahal sebelumnya kita bertemu dengan rombongan pendaki dari UGM yang hendak mendaki setelah saya tanya basecamp masih jauh gak, mereka menjawab dekat sekitar 30 menit. Saat tersesat itu jalan menurut saya serasa benar tapi saya berhenti sejenak dan sedikit heran, kita berjalan turun terus kanapa malah menanjak lagi?. Saat itu lampu senter juga mati ditambah juga turun gerimis. Kita pun panik dan berusaha berpikir positif. Akhirnya saya pun mencari jalan duluan hingga menemukan sebuah patok peralon yang menandakan bahwa itu adalah jalur yang benar. Kemudian saya kembali dan berkata sama Anas dan Handa bahwa jalurnya lewat sini yang benar.

            Mungkin ini petunjuk dan jalan yang dikasih tuhan untuk kita, senter pun kembali menyala walau nyalanya redup. Perlahan kita turun mengikuti jalan setapak itu dengan petunjuk patok peralon yang ada di setiap sisi jalur yang berjarak 1 kilo setiap peralonnya. Sampai akhirnya kita sampai di basecamp dan disambut oleh kekhawatiran Devan yang sedari tadi jam setengah 7 sampai basecamp. Bahkan saking khawatirnya Devan bolak balik mencari tim sar untuk melapor tapi tidak ada.

            Itulah pengalaman saya dan teman-teman saat mendaki gunung merbabu. Sangat seru juga sangat menegangkan dengan dibumbui kejadian horor dan juga sempat tersesat. Cerita ini saya ceritakan apa adanya dan tidak ada yang di dramatisir. Seperti kita ketahui, semua gunung menyimpan sejuta kisah misteri tapi gunung juga memberikan keindahan alam bagi mereka yang mengunjunginya. Dengan niat yang baik dan juga menjaga keindahan serta kelestarian alam pasti hal – hal yang buruk sewaktu di gunung tidak akan kita alami. Membawa sampah saat kita turun adalah bukti bahwa kita memiliki rasa dan jiwa yang sangat perduli dengan alam.

Baca juga

4 komentar

  1. Kalo melihat orang mendaki gunung itu rasanya pengen banget
    tapi sayang belum bisa, karena terkendala pekerjaan
    sempet di ajak abang, kondisi tidak memungkinkan hahaha

    ReplyDelete
  2. Naik gunung itu seru kok kak, banyak hal hal yang menyenangkan ditambah pengalaman yang akan kita dapat sewaktu perjalanan

    ReplyDelete
  3. Niat amat sampai bawa kostum wisuda, hihi. Iyah merbabu emang agak serem...makanya kudu konsen penuh kalau naik ke sana. Mas suami belum kesampaian ke sana...pengen2 terus dan ngiri denger cerita teman2nya

    ReplyDelete
  4. Iya mbak memang udah target dari awal sampai puncak dan makai toga hehehe..

    Semoga sang suami kesampaian naik merbabu dan sampai puncak mbak

    ReplyDelete